- Pengertian komunikasi interpersonal
Komunikasi interpersonal
didefinisikan oleh Joseph A. Devito dalam bukunya “ The Interpersonal
Communicationtau Book”.( devito. 1889:4 ) sebagai: “proses pengiriman dan
penerimaan pesan-pesan antara dua orang atau diantara sekelompok kecil
orang-orang, dengan beberapa efek dan beberapa umpan balik secara seketika”(
the process of sending and receiving messages betwen two persons, or among a
small group of person, with some effect and some immediate feedback). Jadi, Komunikasi
merupakan proses pemindahan informasi dan pengertian antara dua orang atau
lebih, dimana masing-masing berusaha untuk memberikan arti pada pesan-pesan
simbolik yang dikirim melalui suatu media yang menimbulkan umpan balik.
Komunikasi Interpersonal yakni
kegiatan komunikasi yang dilakukan secara langsung antara seseorang dengan
orang lainnya.Misalnya percakapan tatap muka, korespondensi, percakapan melalui
telepon, dsbnya.Pentingnya situasi komunikasi interpersonal ialah karena
prosesnya memungkinkan berlangsung secra dialogis. Komunikasi yang berlangsung
secara dialogis selalu lebih baik daripada secara monologis. Monolog menunjukan
suatu bentuk komunikasi dimana seorang bicara yang lain mendengarkan, jadi
tidak ada interaksi. Yang aktif hanya komunikatornya saja, sedangkan komunikan
bersifat pasif.
Komunikasi Interpersonal
berlangsung antar dua individu, karenanya pemahaman komunikasi dan hubungan
antar pribadi menempatkan pemahaman mengenai komunikasi dalam proses
psikologis. Setiap individu dalam tindakan komunikasi memiliki pemahaman dan
makna pribadi terhadap setiap hubungan dimana dia terlibat di dalamnya. Hal
terpenting dari aspek psikologis dalam komunikasi adalah asumsi bahwa diri
pribadi individu terletak dalam diri individu dan tidak mungkin diamati secara
langsung. Artinya dalam komunikasi interpersonal pengamatan terhadap seseorang
dilakukan melalui perilakunya dengan mendasarkan pada persespsi orang yang
mengamati. Dengan demikian aspek psikologis mencakup pengamatan pada dua dimensi,
yaitu internal dan eksternal. Namun kita mengetahui bahwa dimensi eksternal
tidaklah selalu sama dengan dimensi internalnya.
Fungsi psikologis dari komunikasi
adalah untuk menginterpretasikan tanda-tanda melalui tindakan atau perilaku
yang dapat diamati. Proses interpretasi ini setiap individu berbeda. Karena
setiap individu memiliki kepribadian yang berbeda, yang terbentuk karena
pengalaman yang berbeda pula. Keterampilan komunikasi tidak hanya mengacu pada
cara di mana kita berkomunikasi dengan orang lain. Tetapi meliputi banyak hal
seperti cara bagaimana kita menanggapi lawan bicara kita, gerakan tubuh serta
mimik muka, nada suara kita dan banyak hal lainnya. Terdapat delapan elemen
yang menentukan efektivitas komunikasi, yaitu :
1) Pengirim,
orang-orang yang mengawali suatu komunikasi.
2) Penerima,
orang-orang yang melalui inderanya menerima pesan-pesan dari Pengirim.
3) Encoding,
proses mengubah gagasan atau informasi ke dalam rangkaian simbol atau isyarat.
Dalam proses ini, gagasan atau informasi diterjemahkan ke dalam simbol-simbol
(biasanya dalam bentuk kata-kata atau isyarat) yang memiliki kesamaan arti
dengan simbol-simbol yang dimiliki Penerima.
4) Pesan, bentuk
fisik dari informasi-informasi atau gagasan-gagasan yang telah diubah oleh pengirim.
Pesan biasanya diberikan dalam bentuk-bentuk yang dapat dihayati dan ditangkap
oleh salah satu indera atau lebih dari penerima. Perkataan dapat didengar,
tulisan tangan dapat dibaca, dan isyarat-isyarat tangan dapat dilihat, dan
sentuhan tangan dapat dirasakan sebagai ancaman atau kehangatan. Pesan-pesan
non-verbal merupakan bentuk yang sangat penting terutama di dalam menekankan
arti atau memberikan reaksi-reaksi secara terbuka.
5) Decoding,
proses penterjemahan terhadap pesan-pesan yang dikirim oleh Pengirim kepada
Penerima. Proses ini dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman masa lampau,
penggunaan interprestasi yang bersifat pribadi terhadap simbol-simbol atau
isyarat-isyarat, harapan-harapan, dan saling pengertian dengan Pengirim.
Komunikasi lebih efektif dan efisien apabila pesan yang diterjemahkan oleh
penerima seimbang atau sesuai dengan pesan-pesan yang dimaksudkan oleh
Pengirim.
6) Channel, cara
atau saluran atau jalan pengiriman suatu pesan. Hal ini seringkali dapat
dipisahkan dari pesan. Agar komunikasi dapat berjalan secara efisien dan
efektif, Channel haruslah sesuai dengan pesan yang hendak dikirim.
7) Noise, faktor
pengganggu jalannya komunikasi. Munculnya gangguan ini bisa pada setiap tahap
komunikasi.
8) Feedback (umpan
balik), reaksi atau ekspresi Penerima terhadap pesan-pesan yang telah
diterimanya, dan dikomunikasikan kepada Pengirim. Dengan adanya umpan balik,
Pengirim dapat mengetahui sejauh mana pesan-pesan yang telah dikirimnya bisa
diterima oleh Penerima.
Komunikasi menuntut adanya
partisipasi dan kerja sama dari para pelaku yang terlibat kegiatan komunikasi akan berlangsung baik apabila
pihak-pihak yang berkomunikasi (dua orang atau lebih) sama-sama ikut
terlibat dan sama-sama mempunyai perhatian yang samaterhadap topik pesan yang
disampaikan. Sifat- sifat dari komunikasi, yaitu :
- Komunikasi bersifat simbolis Komunikasi pada dasarnya merupakan tindakan yang dilakukan dengan menggunakan lambang-lambang. Lambang yang paling umum digunakan dalam komunikasi antar manusia adalah bahasaverbal dalam bentuk kata-kata, kalimat, angka-angka atau tanda-tanda lainnya.
- Komunikasi bersifat transaksional Komunikasi pada dasarnya menuntut dua tindakan, yaitu memberi dan menerima. Dua tindakan tersebut tentunya perlu dilakukan secara seimbang atau porsional.
- Komunikasi menembus faktor ruang dan waktu Maksudnya adalah bahwa para peserta atau pelaku yang terlibat dalam komunikasi tidak harus hadir pada waktu serta tempat yang sama. Dengan adanya berbagai produk teknologi komunikasi seperti telepon, internet, faximili, dan lain-lain, faktor ruang dan waktu tidak lagi menjadi masalah dalam berkomunikasi.
Untuk dapat mengembangkan kemampuan
dalam berkomunikasi secara efektif, baik secara personal maupun professional
paling tidak kita harus menguasai empat jenis keterampilan dasar dalam
berkomunikasi, yaitu :
- menulis,
- membaca,
- berbicara;
- mendengar
Persentase penggunaan saluran
komunikasi adalah sebagai berikut :
- Menulis (writing): 9%
- Mendengarkan (listening):
45%
- Membaca (reading) : 16%
- Berbicara (speaking) : 30%
Disadari ataupun tidak, setiap hari
kita melakukan, paling tidak, satu dari keempat hal tersebut diatas dengan
lingkungan kita. Seperti juga pernafasan, komunikasi sering dianggap sebagai
suatu kejadian otomatis dan terjadi begitu saja, sehingga seringkali kita tidak
memiliki kesadaran untuk melakukannya secara efektif. Aktivitas komunikasi
adalah aktivitas rutin serta otomatis dilakukan, sehingga kita tidak pernah
mempelajarinya secara khusus, seperti bagaimana menulis ataupun membaca secara
cepat dan efektif ataupun berbicara secara efektif serta menjadi pendengar yang
baik.
Menurut Stephen Covey, komunikasi
merupakan keterampilan yang penting dalam hidup manusia. Unsur yang paling
penting dalam berkomunikasi adalah bukan sekedar apa yang kita tulis atau yang
kita katakan, tetapi karakter kita dan bagaimana kita menyampaikan pesan kepada
penerima pesan. Penerima pesan tidak hanya sekedar mendengar kalimat yang
disampaikan tetapi juga membaca dan menilai sikap kita. Jadi syarat utama dalam
komunikasi yang efektif adalah karakter kokoh yang dibangun dari fondasi etika
serta integritas pribadi yang kuat.
Tidak peduli seberapa berbakatnya
seseorang, betapapun unggulnya sebuah tim atau seberapapun kuatnya kasus hukum,
keberhasilan tidak akan diperoleh tanpa penguasaan keterampilan komunikasi yang
efektif. Keterampilan melakukan komunikasi yang efektif akan berperan besar
dalam mendukung pencapaian tujuan dari seluruh aktivitas. Untuk dapat melakukan
komunikasi yang efektif, maka kemampuan untuk mengirimkan pesan atau informasi
yang baik, kemampuan untuk menjadi pendengar yang baik, serta keterampilan
menggunakan berbagai media atau alat audio visual merupakan bagian yang sangat
penting
- B. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Komunikasi Interpersonal
Komunikasi antarpribadi sangat
potensial untuk menjalankan fungsi instrumental sebagai alat untuk mempengaruhi
atau membujuk orang lain, karena kita dapat menggunakan kelima lat indera kita
untuk mempertinggi daya bujuk pesan yang kita komunikasikan kepada komunikan
kita. Sebagai komunikasi yang paling lengkap dan paling sempurna, komunikasi
antarpribadi berperan penting hingga kapanpun, selama manusia masih mempunyai
emosi. Kenyataannya komunikasi tatap-muka ini membuat manusia merasa lebih akrab
dengan sesamanya, berbeda dengan komunikasi lewat media massa seperti surat
kabar, televisi, ataupun lewat teknologi tercanggih.
Dibandingkan dengan bentuk
komunikasi lainnya, komunikasi interpersonal dinilai paling ampuh dalam
kegiatan mengubah sikap, kepercayaan, opini, dan perilaku komunikan. Alasannya
yaitu komunikasi interpersoanal umumnya berlangsung secar tatap muka ( face to
face ). Komunikator dan komunikan saling bertatap muka, maka terjadilah kontak
pribadi ( personal contact ) yang menimbulkan keterbukaan antara komunikan dan
komunikator. Ketika komunikator menyampaikan pesan kepada komunikan, umpan
balik akan terjadi secara seketika ( immediate feedback ). Komunikator akan
mengetahui pesan tersampaikan secara baik atau tidak ketika melihat tanggapan
komunikan terhadap pesan yang disampaikan melalui ekspresi wajah dan gaya
bahasa.. apabila umpan baliknya positif artinya tanggapan dari komunikan
tersebut menyenangkan untuk komunikator dan komunikator akan mempertahankan
gaya komunikasi yang sudah terbangun, sebaliknya jika tangggapan negatif dari
komunikan maka komunikator harus merubah gaya komunikasi agar kedepannya dapat
berkomunikasi yang jauh lebih baik.
Oleh karena itu, keampuhan dalam
mengubah sikap, kepercayaan, opini dan perilaku komunikan maka bentuk
komunikasi interpersonal sering dipergunakan umtuk melancarkan komunikasi
persuasif ( persuasive communication ) yakni suatu teknik komunikasi secara
psikologis manusiawi yang sifatnya halus, luwes berupa ajakan, bujukan atau
rayuan. Tetapi komunikasi persuasif interpersonal hanya digunakan pada
komunikan yang potensial, dalam artian tokoh yang mempunyai jajaran dengan
pengikutnyaatau anak buahnya dalam jumlah yang sangat banyak, sehingga apabila
tokoh tersebut berhasil diubah sikapnya atau idiologinya maka seluruh
jajarannya akan mengikutinya.
Sistem komunikasi interpersonal
dijelaskan dalam Buku Psikologi Komunikasi ( Drs. Jalaluddin Rahmat, M.Sc )
diituliskan bahwa dalam sistem komunikasi interpersonal ada hal-hal penting
tentang:
1) Persepsi
Interpersonal
Persepsi adalah suatu proses
pengenalan atau identifikasi sesuatu dengan menggunakan panca indera (Drever
dalam Sasanti, 2003). Kesan yang diterima individu sangat tergantung pada
seluruh pengalaman yang telah diperoleh melalui proses berpikir dan belajar,
serta dipengaruhi oleh faktor yang berasal dari dalam diri individu. Sabri
(1993) mendefinisikan persepsi sebagai aktivitas yang memungkinkan manusia
mengendalikan rangsangan-rangsangan yang sampai kepadanya melalui alat inderanya,
menjadikannya kemampuan itulah dimungkinkan individu mengenali milleu
(lingkungan pergaulan) hidupnya.
Proses persepsi terdiri dari tiga
tahap yaitu
1. pengideraan
2. pengorganisiran berdasarkan
prinsip- prinsip tertentu.
3. stimulasi pada penginderaan diinterpretasikan
dan dievaluasi.
Mar’at (1981) mengatakan bahwa
persepsi adalah suatu proses pengamatan seseorang yang berasal dari suatu
kognisi secara terus menerus dan dipengaruhi oleh informasi baru dari
lingkungannya. Riggio (1990) juga mendefinisikan persepsi sebagai proses
kognitif baik lewat penginderaan, pandangan, penciuman dan perasaan yang
kemudian ditafsirkan. Mar’at (Aryanti, 1995) mengemukakan bahwa persepsi di
pengaruhi oleh faktor pengalaman, proses belajar, cakrawala, dan pengetahuan
terhadap objek psikologis
Rahmat (dalam Aryanti, 1995)
mengemukakan bahwa persepsi juga ditentukan juga oleh faktor fungsional dan
struktural.
- faktor fungsional atau faktor yang bersifat personal antara kebutuhan individu, pengalaman, usia, masa lalu, kepribadian, jenis kelamin, dan lain-lain yang bersifat subyektif.
- Faktor struktural atau faktor dari luar individu antara lain: lingkungan keluarga, hukum-hukum yang berlaku, dan nilai-nilai dalam masyarakat.
2) Konsep
Diri
Menurut Burns (1993:vi) konsep diri
adalah suatu gambaran campuran dari apa yang kita pikirkan orang-orang lain
berpendapat, mengenai diri kita, dan seperti apa diri kita yang kita inginkan. Konsepdiri
adalah pandangan individu mengenai siapa diri individu, dan itu bisa diperoleh
lewat informasi yang diberikan lewat informasi yang diberikan orang lain pada
diri individu (Mulyana, 2000:7).
Pendapat tersebut dapat diartikan
bahwa konsep diri yang dimiliki individu dapat diketahui lewat informasi,
pendapat, penilaian atau evaliasi dari orang lain mengenai dirinya. Individu
akan mengetahui dirinya cantik, pandai, atau ramah jika ada informasi dari
orang lain mengenai dirinya. Menurut William D. Brooks bahwa konsepdiri
adalah pandangan dan perasaan kita tentang diri kita (Rakhmat, 2005:105). Centi
(1993:9) mengemukakan konsepdiri (self-concept)
adalah gagasan tentang diri sendiri, bagaimana kita melihat diri sendiri
sebagai pribadi, merasa tentang diri sendiri, dan menginginkan diri sendiri
menjadi manusia sebagaimana kita harapkan. Jadi, Konsepdiriadalah
cara pandang secara menyeluruh tentang dirinya, yang meliputi kemampuan yang
dimiliki, perasaan yang dialami, kondisi fisik dirinya maupun lingkungan
terdekatnya.
3) Atraksi
Interpersonal
Atraksi interpersonal adalah
kesukaan pada orang lain, sikap positif dan daya tarik seseorang. Adanya daya
tarik ini membentuk rasa suka. Rasa suka pada seseorang umumnya membuat orang
yang kita sukai menjadi signifikan bagi kita.
Teori atraksi interpersonal
v Reinforcement theory
menjelaskan bahwa seseorang menyukai orang lain adalah sebagai hasil belajar.
v Equity theory menyatakan
bahwa dalam suatu hubungan, manusia selalu cenderung menjaga keseimbangan
antara harga (cost) yang dikeluarkan dengan ganjaran (reward) yang diperoleh.
v Exchange theory ,interaksi
sosial diibaratkan sebagai transaksi dagang. Jika orang kenal pada seseorang
yang mendatangkan keuntungan ekonomis dan psikologis, akan lebih disukai.
v Gain-loss theory , orang
cenderung lebih menyukai orang-orang yang menguntungkan dari pada orang-orang
yang merugikan kita.
Faktor yang mempengaruhi atraksi
interpersonal:
Faktor-faktor personal, meliputi:
a) kesamaan karakteristik
personal;cognitive consistency theory dari Fritz
Heider mengemukakan
bahwa orang cenderung
memiliki sikap yang sama dengan orang yang disukai;
b) tekanan emosional (stress),
c) harga diri yang rendah,
d) isolasi sosial.
Faktor-faktor situasional:
a) daya tarik fisik,
b) ganjaran (reward),
c) familiarity,
d) kedekatan (closeness),
e) kemampuan.
4) Hubungan
Interpersonal.
Komunikasi efektif ditandai dengan
hubungan interpersonal yang baik. Kegagalan komunikasi sekunder terjadi, isi
pesan dipahami, tetapi hubungan dengan komunikan rusak. Anita Taylor
mengatakan Komunikasi interpersonal yang efektif meliputi banyak unsur, tetapi
hubungan interpersonal barangkali yang paling penting.
hubungan interpersonal,memerlukan
komunikasi yang berkualitas
Komunikasi interpersonal dipengaruhi
beberapa faktor, yaitu :
Menurut eksperimen Solomon E. Asch,
bahwa kata yang disebutkan pertama akan mengarahkan penilaian selanjutnya.
Pengaruh kata pertama ini kemudian terkenal sebagai primacy effect. Menurut
teori Asch, ada kata-kata tertentu yang mengarahkan seluruh penilaian kita
tentang orang lain. Jika kata tersebut berada ditengah rangkaian kata maka
disebut central organizing trait.
Walaupun teori Asch ini menarik
untuk melukiskan bagaiana cara orang menyampaikan berita tentang orang lain
mempengaruhi persepsi kita tentang orang itu, dalam kenyataan kita jarang
melakukannya. Jarang kita melukiskan orang dengan menyebut rangkaian kata sifat.
Kita biasanya mulai pada central trait, menjelaskan sifat itu secara
terperinci, baru melanjutkan pada sifat-sifat yang lain.
Edward T. Hall, juga menyimpulkan
keakraban seorang dengan orang lain dari jarak mereka, seperti yang kita amati.
Kedua, erat kaitannya dengan yang pertama, kira menangapi sifat orang
lain dari cara orang itu membuat jarak dengan kita. Ketiga, caranya
orang mengatur ruang mempengaruhi persepsi kita tentang orang itu.
Macam- macam petunjuk pada saat
melakukan komunikasi, yaitu :
- a. Petunjuk Kinesik (Kinesic Cues)
Petunjuk kinesik adalah persepsi
yang didasarkan kepada gerakan orang lain yang ditunjukkan kepada kita.
Beberapa penelitian membuktikan bahwa persepsi yang cermat tentang sifat-sifat
dari pengamatan petunjuk kinesik. Begitu pentingnya petunjuk kinesik, sehingga
apabila petunjuk-petunjuk lalin (seperti ucapan) bertentangan dengan petunjuk
kinesik, orang mempercayai yang terakhir. Mengapa? Karena petunjuk kinesik
adalah yang paling sukar untuk dikendalikan secara sadar oleh orang yang
menjadi stimuli (selanjutnya disebut persona stimuli-orang yang
dipersepsi;lawan dari persona penanggap).
- b. Petunjuk Wajah
Diantara berbagai petunjuk non
verbal, petunjuk fasial adalah yang paling penting dalam mengenali perasaan persona
stimuli. Ahli komunikasi non verbal, Dale G. Leather (1976:21), menulis; “Wajah
sudah lama menjadi sumber informasi dalam komunikasi interpersonal. Inilah alat
yang sangat penting dalam menyampaikan makna. Dalam beberapa detik ungkapan
wajah dapat menggerakkan kita ke puncak keputusan. Kita menelaah wajah rekan
dan sahabat kita untuk perubahan-perubahan halus dan nuansa makna dan
mereka,pada gilirannya, menelaah kita”.
Walaupun petunjuk fasial dapat
mengungkapkan emosi, tidak semua orang mempersepsi emosi itu dengan cermat. Ada
yang sangat sensitive pada wajah, ada yang tidak. Sekarang para ahli psikologi
sosial sudah menemukan ukuran kecermatan persepsi wajah itu dengan tes yang
disebut FMST-facial meaning sensitivity test (tes kepekaan makna wajah).
Dengan tes ini, kepekaan kita menangkap emosi pada wajah orang lain dapat
dinilai skornya.
- c. Petunjuk Paralinguistik
Yang dimaksud paralinguistik ialah
cara orang mengucapkan lambing-lambang verbal. Jadi, jika petunjuk verbal
menunjukkan aoa yang diucapkan, petunjuk paralinguistik mencerminkan bagaimana
mengucapkannya. Ini meliputi tinggi-rendahnya suara, tempo bicara, gaya
verbal (dialek), dan interaksi (perilaku ketika melakukan komunikasi atau
obrolan). Suara keras akan dipersepsi marah atau menunjukkan hal yang sangat
penting. Tempo bicara yang lambat, ragu-ragu, dan tersendat-sendat, akan
dipahami sebagai ungkapan rendah diri atau … kebodohan.
Dialek digunakan menentukan persepsi
juga. Bila perilaku komunikasi (cara bicara) dapat memberikan petunjuk tentang
kepribadian persona stimuli, suara mengungkapkan keadaan emosional.
- d. Petunjuk Artifaktual
Petunjuk artifaktual meliputi segala
macam penampilan (appearance) sejak potongan tubuh, kosmetik yang
dipakai, baju, pangkat, badge, dan atribut-atribut lainnya. Bila kita
mengetahui bahwa seseorang memiliki satu sifat (misalnya, cantik atau jelek),
kita beranggapan bahwa ia memiliki sifat-sifat tertentu (misalnya,periang atau
penyedih); ini disebut halo effect. Bila kita sudah menyenangi
seseorang, maka kita cenderung melihat sifat-sifat baik pada orang itu dan
sebaliknya.
Selain berbagai petunjuk diatas,
petunjuk verbal juga mempunyai peran. Yang dimaksud dengan petunjuk verbal
disini adalah isi komunikasi persona stimuli, bukan cara. Misalnya,
orang yang menggunakan pilihan kata-kata yang tepat, mengorganisasikan pesan
secara sistematis, mengungkapkan pikiran yang dalam dan komprehensif, akan
menimbulkan kesan bahwa orang itu cerdas dan terpelajar.
Persepsi interpersonal besar
pengaruhnya bukan saja pada komunikasi interpersonal, tetapi juga pada hubungan
interpersonal. Karena itu,keceramatan persepsi interpersonal akan sangat
berguna untuk meningkatkan kualitas komunikasi interpersonal kita. Beberapa
cirri-ciri khusus penanggap yang ceramat adalah :
- a. Pengalaman
Pengalaman mempengaruhi kecermatan
persepsi. Pengalaman tidak selalu lewat proses belajar formal. Pengalaman kita
bertambah juga melalui rangkaian peristiwa yang pernah kita hadapi. Inilah yang
menyebabkan seorang ibu segera melihat hal yang tidak beres pada wajah anaknya
atau pada petunjuk kinesik lainnya. Ibu lebih berpengalaman mempersepsi anaknya
daripada bapak. Ini juga sebabnya mengapa kita lebih sukar berdusta di depan
orang yang paling dekat dengan kita.
- b. Motivasi
Proses konstruktif yang banyak
mewarnai persepsi interpersonal juga sangat banyak melibatkan unsur-unsur
motivasi.
- c. Kepribadian
Dalam psikoanalisis dikenal proyeksi,
sebagai salah satu cara pertahanan ego. Proyeksi adalah
mengeksternalisasikan pengalaman subjektif secara tidak sadar. Orang melempar
perasaan bersalahnya pada orang lain. Maling teriak maling adalah contoh
tipikal dari proyeksi. Pada persepsi interpersonal, orang mengenakan pada orang
lain sifat-sifat yang ada pada dirinya, yang tidak disenanginya. Sudah jelas,
orang yang banyak melakukan proyeksi akan tidak cermat menanggapi persona
stimuli, bahkan mengaburkan gambaran sebenarnya. Sebaliknya, orang yang
menerima dirinya apa adanya, orang yang tidak dibebani perasaan bersalah,
cenderung menafsirkan orang lain lebih cermat. Begitu pula orang yang tenang,
mudah bergaul dan ramah cenderung memberikan penilaian posoitif pada orang
lain. Ini disebut leniency effect (Basson dan Maslow, 1957).
Bila petunjuk-petunjuk verbal dan
non verbal membantu kita melakukan persepsi yang cermat, beberapa factor
personal ternyata mempersulitnya. Persepsi interpersonal menjadi lebih sulit
lagi, karena persona stimuli bukanlah benda mati yang tidak sadar. Menusia
secara sadar berusaha menampilkan dirinya kepada orang lain sebaik mungkin.
Inilah yang disebut dengan Erving Goffman sebagai self-presentation (penyajian
diri).
d. Proses
Pembentukan Kesan
- Stereotyping
Seorang guru ketika menghadapi
murid-muridnya yang bermacam-macam, ia akan mengelompokkan mereka pada
konsep-konsep tertentu; cerdas, bodoh, cantik, jelek, rajin, atau malas. Penggunaan
konsep ini menyederhanakan bergitu banyak stimuli yang diterimanya. Tetapi,
begitu anak-anak ini diberi kategori cerdas, persepsi guru terhadapnya akan
konsisten. Semua sifat anak cerdas akan dikenakan kepada mereka. Inilah yang
disebut stereotyping.
Stereotyping ini juga menjalaskan terjadinya primacy effect dan halo
effect yang sudah kita jelaskan dimuka. Primacy effect secara
sederhana menunjukkan bahwa kesan pertama amat menentukan; karena kesan itulah
yang menentukan kategori. Begitu pula, halo effect. Persona stimuli yang
sudah kita senangi telah mempunyai kategori tertentu yang positif, dan pada
kategori itu sudah disimpan semua sifat yang baik.
- Implicit Personality Theory
Memberikan kategori berarti membuat
konsep. Konsep “makanan” mengelompokkan donat, pisang, nasi, dan biscuit dalam
kategori yang sama. Konsep “bersahabat” meliputi konsep-konsep raman, suka
menolong, toleran, tidak mencemooh dan sebagainya. Disini kita mempunya asumsi
bahwa orang ramah pasti suka menolong, toleran, dan tidak akan mencemooh kita.
Setiap orang mempunyai konsepsi tersendiri tentang sifat-sifat apa yang
berkaitan dengan sifat-sifat apa. Konsepsi ini merupakan teori yang
dipergunakan orang ketika membuat kesan tentang orang lain. Teori ini tidak
pernah dinyatakan, kerena itu disebut implicit personality theory. Dalam
kehidupan sehari-hari, kita semua psikolog, amatir, lengkap dengan berbagi
teori kepribadian. Suatu hari anda menemukan pembantu anda sedang
bersembahyang, anda menduga ia pasti jujur, saleh, bermoral tinggi. Teori anda
belum tentu benar, sebab ada pengunjung masjid atau gereja yang tidak saleh dan
tidak bermoral.
- Atibusi
Atribusi adalah proses menyimpulkan
motif, maksud, dan karakteristik orang lain dengan melihat pada perilakunya
yang tampak (Baron dan Byrne, 1979:56). Atribusi boleh juga ditujukan pada diri
sendiri (self attribution), tetapi di sini kita hanya membicarakan atribusi
pada orang lain. Atribusi merupakan masalah yang cukup poupuler pada dasawarsa
terakhir di kalangan psikologi sosial, dan agak menggeser fokus pembentukan dan
perubahan sikap. Secar garis besar ada dua macam atribusi: atribusi kausalitas
dan atribusi kejujuran.
Fritz Heider (1958) adalah yang
pertama menelaah atribusi kausalitas. Menurut Heider, bila kita mengamati
perilaku sosial, pertama-tama kita menentukan dahulu apa yang menyebabkannya;
factor situasional atau personal; dalam teori atribusi lazim disebut kausalitas
eksternal dan kausalitas internal (Jones dan Nisbett, 1972).
Sekarang bagaimana kita dapat
menyimpulkan bahwa persona stimuli jujur atau munafik (atribusi kejujuran-attribution
of honesty)? Menurut Robert A. Baron dan Donn Byrne (1979:70-71), kita akan
memperhatikan dua hal: (1) sejauh mana pernyataan orang itu menyimpang dari
pendapat yang popular dan diterima orang, (2) sejauh mana orang itu memperoleh
keuntungan dari kita dengan pernyataan itu.
- 3. Pengaruh Persepsi Interpersonal Pada Komunikasi Interpersonal
Perilaku kita dalam komunikasi
interpersonal amat bergantung pada persepsi interpersonal. Karena perspsi yang
keliru, seringkali terjadi kegagalan dalam komunikasi. Kegagalan komunikasi
dapat diperbaiki bila orang menyadari bahwa persepsinya mungkin salah.
Komunikasi interpersonal kita akan menjadi lebih baik bila kita mengetahui
bahwa persepsi kita bersifat subjektif dan cenderung keliru. Kita jarang
meneliti kembali persepsi kita. Akibat lain dari persepsi kita yang tidak
cermat ialah mendistorsi pesan yang tidak sesuai dengan persepsi kita. Persepsi
kita tentang orang lain cenderung stabil, sedangkan persepsi stimuli adalah
manusia yang selalu berubah. Adanya kesenjangan antara persepsi dengan realitas
sebenarnya mengakibatkan bukan saja perhatian selektif, tetapi juga penafsiran pesan
yang keliru.
Dalam komuniaksi interpersonal
terdiri dari berbagai macam teori salah satunya adalah teori fungsional. Kata
fungsional disini hakekatnya ini bukanlah sebuah teori, melainkan suatu
perspektif yang dapat digunakan sebagai pijakan teori. Beberapa teori
komunikasi menggunakan perspektif fungsional, yaitu.
- 1. Teori-teori Struktural dan Fungsional
Bagian ini memasukkan kelompok utama
pendekatan-pendekatan yang tergabung secara samar dalam ilmu sosial. Meski
makna istilah strukturalisme dan fungsionalisme kurang begitu tepat, tetapi
keduanya percaya bahwa struktur sosial adalah hal yang nyata dan berfungsi
dalam cara yang dapat diamati secara objektif.
Sebagai contoh, pengamat komunikasi
mungkin berasumsi bahwa hubungan personal merupakan sesuatu yang nyata dengan
bagian-bagian yang disusun secara khusus, seperti juga rumah yang merupakan
suatu yang nyata dengan material yang disusun sesuai rencana. Disini hubungan
dilihat sebagai struktur sosial. Pengamat akan berasumsi lebih jauh bahwa hubungan
yang ada bersifat tidak statis tetapi memiliki atribut seperti ikatan,
ketergantungan, kekuatan, kepercayaan dan sebagainya.
Meskipun strukturalisme dan
fungsionalisme seringkali digabung, tetapi keduanya tetap berbeda dalam
penekanannya. Strukturalisme yang berakar pada linguistik, menekankan pada
organisasi bahasa dan sistem sosial. Fungsionalisme yang berakar pada biologi,
menekankan pada cara-cara sistem yang terorganisasi bekerja untuk menunjang
dirinya. Sistem terdiri atas variabel-variabel yang berhubungan timbal balik
dengan variabel lain dalam sebuah fungsi network. Perubahan pada satu variabel
akan mengakibatkan perubahan pada yang lain. Peletakan dua pendekatan ini
secara bersama-sama menghasilkan suatu gambaran sistem sebagai struktur elemen dengan
hubungan yang fungsional. Sebagai contoh, beberapa peneliti komunikasi
organisasi menggunakan pendekatan struktural-fungsional dalam kerja mereka.
Mereka melihat organisasi sebagai suatu sistem dimana bagian-bagian yang
terkait membentuk departemen, tingkatan, perilaku umum, suasana, aktivitas
kerja dan produk.
Pendekatan teoritik yang paling umum
dari komunikasi yaitu teori sistem. Teori sistem dan dua bidang yang
berhubungan, sibernetika dan teori informasi, menyajikan perspektif yang luas
mengenai cara memandang dunia. Teori sistem berkaitan dengan saling
keterhubungan antara bagian-bagian dari suatu organisasi.
- 2. Teori kebutuhan hubungan interpersonal
Salah sastu bagian dalam lapangan
komunikasi yang dikenal sebagai relational communication sangat dipengaruhi
oleh teori sistem. Inti dari kerja ini adalah asumsi bahwa fungsi komunikasi
interpersonal untuk membuat, membina, dan mengubah hubungan dan bahwa hubungan
pada gilirannya akan mempengaruhi sifat komunikasi interpersonal.
Poin ini berdasar pada gagasan bahwa komunikasi sebagai interaksi yang menciptakan struktur hubungan. Dlaam keluarga misalnya, anggota individu secara sendirian tidak membentuk sebuah sistem, tetapi ketika berinteraksi antara satu dengan anggota lainnya, pola yang dihasilkan memberi bentuk pada keluarga. Gagasan sistem yang penting ini secara luas diadopsi dalam lapangan komunikasi. Proses dan bentuk merupakan dua sisi mata uang; saling menentukan satu sama lain.
Poin ini berdasar pada gagasan bahwa komunikasi sebagai interaksi yang menciptakan struktur hubungan. Dlaam keluarga misalnya, anggota individu secara sendirian tidak membentuk sebuah sistem, tetapi ketika berinteraksi antara satu dengan anggota lainnya, pola yang dihasilkan memberi bentuk pada keluarga. Gagasan sistem yang penting ini secara luas diadopsi dalam lapangan komunikasi. Proses dan bentuk merupakan dua sisi mata uang; saling menentukan satu sama lain.
Seorang Antropolog Gregory Bateson
adalah pendiri garis teori ini yang selanjutnya dikenal dengan komunikasi
relasional. Kerjanya mengarah pada pengembangan dua proposisi mendasar pada
mana kebanyakan teori relasional masih bersandar. Pertama yaitu sifat mendua
dari pesan: setiap pertukaran interpersonal membawa dua pesan, pesan “report”
dan pesan “command”. Report message mengandung substansi atau isi komunikasi,
sedangkan command message membuat pernyataan mengenai hubungan. Dua elemen ini
selanjutnya dikenal sebagai “isi pesan” dan “pesan hubungan”, atau “komunikasi”
dan “metakomunikasi”.
Pesan report menetapkan mengenai apa
yang dikatakan, dan pesan command menunjukkan hubungan diantara komunikator.
Isi pesan sederhana seperti “I love you” dapat dibawakan dalam berbagai cara,
dimana masing-masing mengatakan sesuatu secara berbeda mengenai hubungan. Frasa
ini dapat dikatakan dalam cara yang bersifat dominasi, submissive, pleading
(memohon), meragukan, atau mempercayakan. Isi pesannya sama, tetapi pesan
hubungan dapat berbeda pada tiap kasus.
Proposisi kedua Bateson yaitu bahwa
hubungan dapat dikarakterisasi dengan komplementer atau simetris. Dalam
hubungan yang komplementer, sebuah bentuk perilaku diikuti oleh lawannya.
Contoh, perilaku dominan seorang partisipan memperoleh perilaku submissive dari
partisipan lain. Dalam symmetry, tindakan seseorang diikuti oleh jenis yang
sama. Dominasi ketemu dengan sifat dominan, atau submissif ketemu dengan
submissif.
Disini kita mulai melihat bagaimana proses interaksi menciptakan struktur dalam sistem. Bagaimana orang merespon satu sama lain menentukan jenis hubungan yang mereka miliki. Sistem yang mengandung serangkaian pesan submissif akan sangat berbeda dengan yang mengandung rangkaian pesan yang besifat dominasi. Dan struktur pesan yang mencampur keduanya adalah berbeda pula.
Disini kita mulai melihat bagaimana proses interaksi menciptakan struktur dalam sistem. Bagaimana orang merespon satu sama lain menentukan jenis hubungan yang mereka miliki. Sistem yang mengandung serangkaian pesan submissif akan sangat berbeda dengan yang mengandung rangkaian pesan yang besifat dominasi. Dan struktur pesan yang mencampur keduanya adalah berbeda pula.
- 3. Teori disonansi kognitif
Teori Leon Festinger mengenai
dissonansi kognitif merupakan salah satu teori yang paling penting dalam
sejarah psikologi sosial. Selama bertahun-tahun teori ini menghasilkan sejumlah
riset dan mengisi aliran kritik, interpretasi, dan extrapolasi.
Festinger mengajarkan bahwa dua
elemen kognitif termasuk sikap, persepsi, pengetahuan, dan perilaku. Tahap
pertama yaitu posisi nol, atau irrelevant, kedua yaitu konsisten, atau
consonant dan ketiga yaitu inkonsisten, atau dissonant. Dissonansi terjadi
ketika satu elemen tidak diharapkan mengikuti yang lain. Jika kita pikir
merokok itu berbahaya bagi kes ehatan, mereka tidak berharap kita merokok. Apa
yang konsonan dan dissonan bagi seseorang tidak bisa berlaku b agi orang lain.
Jadi kita harus selalu menanyakan apa yang konsisten dan yang tidak konsisten
dalam sistem psik ologis orang itu sendiri.
Dua premis yang menolak aturan teori
dissonansi. Pertama yaitu bahwa dissonansi menghasilkan ketegangan atau penekan
an yang menekan individu agar berubah sehingga dissonansi terkurangi. Kedua,
ketika dissonansi hadir, indivi du tidak hanya berusaha menguranginya,
melainkan juga akan menghindari situasi dimana dissonansi tambahan bisa
dihasilkan.
Semakin besar dissonansi, semakin besar kebutuhan untuk menguranginya. Contoh, semakin perokok tidak konsisten dengan pengetahuannay mengenai efek negatif merokok, semakin besar dorongan untuk berhenti merokok. Dissonansi itu sendiri merupakan hasil dari dua variabel lain, kepentingan elemen kognitif dan sejumlah elemen yang terlibat dalam hubungan yang dissonan. Dengan kata lain, jika kita mempunyai beberapa hal yang tidak konsisten dan jika itu penting untuk kita, kita akan mengalami dissonansi yang lebih besar. Jika kesehatan tidak penting, pengetahuan bahwa merokok itu buruk bagi kesehatan kemungkinan tidak mempengaruhi perilaku perokok secara aktual.
Semakin besar dissonansi, semakin besar kebutuhan untuk menguranginya. Contoh, semakin perokok tidak konsisten dengan pengetahuannay mengenai efek negatif merokok, semakin besar dorongan untuk berhenti merokok. Dissonansi itu sendiri merupakan hasil dari dua variabel lain, kepentingan elemen kognitif dan sejumlah elemen yang terlibat dalam hubungan yang dissonan. Dengan kata lain, jika kita mempunyai beberapa hal yang tidak konsisten dan jika itu penting untuk kita, kita akan mengalami dissonansi yang lebih besar. Jika kesehatan tidak penting, pengetahuan bahwa merokok itu buruk bagi kesehatan kemungkinan tidak mempengaruhi perilaku perokok secara aktual.
Sikap, Kepercayaan, dan Nilai. Salah
satu teori yang paling komprehensif mengenai sikap dan perubahannya yaitu milik
Milton Rokeach. Dia mengembangkan penjelasan yang meluas mengenai perilaku
manusia berdasarkan kepercayaan, sikap dan nilai.
Rokeach percaya bahwa setiap orang mempunyai sistem yang tersusun dengan baik atas kepercayaan, sikap dan nilai, yang menuntun perilaku. Belief adalah ratusan atau ribuan pernyataan yang kita buat mengenai diri dan dunia. Kepercayaan dapat bersifat umum ataupun khusus, dan itu disusun dalam sistem dalam hal sentralitas atau pentingnya terhadap ego. Pada pusat sistem kepercayaan yang dibangun dengan baik itu, kepercayaan yang secara relatif tidak dapat berubah yang membentuk inti sistem kepercayaan. Pada pinggiran sistem terbentang sejumlah kepercayaan yang tidak signifikan yang dapat mudah berubah. Percaya bahwa orang tua kita bahagia dalam perkawinan kemungkinan cukup penting, karena dampaknya yaitu banyak hal lain yang kita anggap benar.
Rokeach percaya bahwa setiap orang mempunyai sistem yang tersusun dengan baik atas kepercayaan, sikap dan nilai, yang menuntun perilaku. Belief adalah ratusan atau ribuan pernyataan yang kita buat mengenai diri dan dunia. Kepercayaan dapat bersifat umum ataupun khusus, dan itu disusun dalam sistem dalam hal sentralitas atau pentingnya terhadap ego. Pada pusat sistem kepercayaan yang dibangun dengan baik itu, kepercayaan yang secara relatif tidak dapat berubah yang membentuk inti sistem kepercayaan. Pada pinggiran sistem terbentang sejumlah kepercayaan yang tidak signifikan yang dapat mudah berubah. Percaya bahwa orang tua kita bahagia dalam perkawinan kemungkinan cukup penting, karena dampaknya yaitu banyak hal lain yang kita anggap benar.
- 4. Teori self disclosure
Disclosure dan understanding
merupakan tema penting dalam teori komunikasi pada tahun ’60 dan ‘70-an.
Sebagian besar sebagai konsekuensi aliran humanistik dalam psikologi, sebuah
ideologi “honest communication” muncul, dan beberapa dari pemikiran kita
tentang apa yang membuat komunikasi interpersonal itu baik dipengaruhi oleh
gerakan ini. Didorong oleh karya Carl Rogers, disebut Third Force begitu dalam
psikologi menyatakan bahwa tujuan komunikasi adalah meneliti pemahaman diri dan
orang lain dan bahwa pengertian hanya dapat terjadi dengan komunikasi yang
benar.
Menurut psikologi humanistik,
pemahaman interpersonal terjadi melalui self-disclosure, feedback, dan
sensitivitas untuk mengenal atau mengetahui orang lain. Misunderstanding dan
ketidakpuasan dalam hubungan diawali oleh ketidakjujuran, kurangnya kesamaan
antara tindakan seseorang dengan perasaannya, miskin feedback, serta self
disclosure yang ditahan. Banyak riset pengenalan diri muncul dari gerakan
humanistik ini. Seorang teoritisi yang menggali proses self-disclosure ini
adalah Sidney Jourard. Uraiannya bagi kemanusiaan sifatnya terbuka dan
transparan. Transparansi berarti membiarkan dunia untuk mengenal dirinya secara
bebas dan pengenalan diri seseorang pada orang lain. Hubungan interpersonal
yang ideal menyuruh orang agar membiarkan orang lain mengalami mereka
sepenuhnya dan membuka untuk mengalami orang lain sepenuhnya.
Jourard mengembangkan gagasan ini
setelah mengamati bahwa sakit mental cenderung tertutup bagi dunia. Dia
menemukan bahwa mereka menjadi sehat ketika mereka bersedia mengenalkan dirinya
pada ahli terapi. Kemudian, Jourard menyamakan kesakitan (sickness ) dengan
ketertutupan dan kesehatan dengan transparansi. Jourard melihat pertumbuhan
–pergerakan orang menuju cara berperilaku yang baru- sebagai hasil langsung
dari keterbukaan pada dunia. Orang yang sakit sifatnya tetap dan stagnan;
pertumbuhan orang akan sampai pada posisi hidup baru. Selanjutnya, perubahan
merupakan esensi dari pertumbuhan personal.
Personal growth melekat pada
komunikasi interpersonal sebab dunia merupakan sosial yang sangat luas. Untuk
menerima perubahan seseorang itu sendiri meminta kita untuk menetapkan bahwa
kita juga diterima oleh orang lain. Pertumbuhan akan sulit jika orang-orang di
sekitar kita tidak membuka untuk penerimaan kita sendiri.
Sekarang kita mengerti self-disclosure sebagai proses yang lebih kompleks daripada yang dilakukan pada tahun ’60 dan ‘70-an. Sebagai contoh pemikiran terbaru atas subyek ini, Sandra Petronio meletakkan secara bersamaan serangkaian ide mengenai kompleksitas self-disclosure dalam relationship. Teori ini berdasar pada risetnya sendiri dan survey pada sejumlah banyak kajian lain dengan topik pengembangan hubungan dan disclosure. Dia menerapkan teori ini pada pasangan yang menikah khususnya, selain juga dapat diterapkan pada bermacam-macam; hubungan.
Sekarang kita mengerti self-disclosure sebagai proses yang lebih kompleks daripada yang dilakukan pada tahun ’60 dan ‘70-an. Sebagai contoh pemikiran terbaru atas subyek ini, Sandra Petronio meletakkan secara bersamaan serangkaian ide mengenai kompleksitas self-disclosure dalam relationship. Teori ini berdasar pada risetnya sendiri dan survey pada sejumlah banyak kajian lain dengan topik pengembangan hubungan dan disclosure. Dia menerapkan teori ini pada pasangan yang menikah khususnya, selain juga dapat diterapkan pada bermacam-macam; hubungan.
Menurut Petronio, individu terlibat
dalam hubungan secara konstan menjadi bagian dalam proses pengaturan yang
membatasi antara publik dan privat, antara perasaan dan pikiran yang mereka mau
berbagi dengan sang patner dengan perasaan dan pikiran yang tidak mau mereka
bagi. Permainan diantara kebutuhan untuk berbagi dan kebutuhan untuk melindungi
diri ini sifatnya konstan dan mendorong pasangan untuk membicarakan dan
mengkoordinasi batasan mereka.
Hambatan Komunikasi Interpesonal
Para peneliti telah
mengidentifikasikan sejumlah hambatan-hambatan yang biasanya terjadi di dalam
komunikasi antar pribadi, sebagai berikut :
1. Mendengar apa
yang diharapkan akan didengar. Pengalaman-pengalaman masa lampau mengarahkan
seseorang untuk mendengarkan sesuatu hal yang memang diharapkannya. Sebagai
contoh, seorang pekerja yang telah terbiasa dikritik akan tetap merasa dikritik
meskipun atasannya mengungkapkan kata-kata yang bersifat memuji.
2. Mengabaikan
informasi-informasi yang bertentangan dengan yang diketahui. Apabila kita
mendengar pesan yang berbeda dengan pengertian kita terdahulu, kita cenderung
mengabaikan pesan itu daripada merubah gagasan kita atau mencari
penjelasan yang lain.
3. Mengevaluasi
sumber, arti yang kita tegaskan pada suatu pesan sangat dipengaruhi oleh
penilaian kita terhadap sumber.
4. Pengamatan yang
berbeda. Kata-kata, tindakan, dan kejadian- kejadian akan diamati berdasarkan
nilai-nilai individual dan pengalaman dari Penerima.
5. Tanda-tanda non
verbal yang tidak sesuai. Nada suara, ekspresi wajah, dan postur badan dapat
membantu atau mengganggu komunikasi.
6. Pengaruh
perasaan. Kehidupan perasaan yang mendominasi (misalnya marah, takut,
gembira dsb) akan mempengaruhi interprestasi terhadap pesan-pesan yang diterima
Cara memperbaiki komunikasi
interpersonal
Untuk dapat melakukan komunikasi
yang efektif diperlukan beberapa persyaratan,
atara lain : persepsi, ketetapan, kredibilitas, pengendalian, dan kecocokan / keserasian.
Komunikasi yang efektif dapat mengatasi berbagai hambatan yang dihadapi dengan memperhatikan tiga hal sebagai berikut:
atara lain : persepsi, ketetapan, kredibilitas, pengendalian, dan kecocokan / keserasian.
Komunikasi yang efektif dapat mengatasi berbagai hambatan yang dihadapi dengan memperhatikan tiga hal sebagai berikut:
1. Membuat satu pesan secara lebih
berhati-hati
2. Minimalkan gangguan dalam proses komunikasi
3. Mempermudah upaya umpan balik antara si Pengirim dan si penerima pesan
2. Minimalkan gangguan dalam proses komunikasi
3. Mempermudah upaya umpan balik antara si Pengirim dan si penerima pesan
Cr : http://ittemputih.wordpress.com/2013/03/28/komunikasi-interpersonal/
0 komentar:
Posting Komentar